“PUTUS SEKOLAH DI INDONESIA”
Putus sekolah adalah
keadaan dimana anak berhenti atau tidak melanjutkan pendidikannya ketingkat
lebih tinggi karena berbagai macam alasan. Putus sekolah bisa juga disebabkan
oleh dikeluarkannya (Droup out) seorang anak dari lembaga pendidikan karena anak tersebut mendapatkan masalah di sekolahnya.
PENYEBAB PUTUS SEKOLAH DI INDONESIA
a. Kondisi
ekonomi keluarga
b. Pengaruh
teman yang sudah tidak sekolah
c. Sering
membolos
d. Kurangnya minat untuk meraih pendidikan/ mengenyam
pendidikan dari anak didik itu sendiri
Disamping itu ada faktor internal
dan faktor eksternal
Ø Faktor
internal :
a) Dari
dalam diri anak putus sekolah disebabkan malas untuk pergi sekolah karena
merasa minder, tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolahnya, sering
dicemoohkan karena tidak mampu membayar kewajiban biaya sekola.ak
dipengaruhi oleh berbagai faktor
b) Karena
pengaruh teman sehingga ikut-ikutan diajak bermain seperti play stasion sampai
akhirnya sering membolos dan tidak naik kelas , prestasi di sekolah menurun dan
malu pergi kembali ke sekolah.
c) Anak
yang kena sanksi karena mangkir sekolah sehingga kena Droup Out.
Ø Faktor
Eksternal
a) Keadaan
status ekonomi keluarga.
b) Kurang
Perhatian orang tua
c) Hubungan
orang tua kurang harmonis
Selain Permasalahan diatas ada faktor penting dalam
keluarga yang bisa mengakibatkan anak putus sekolah yaitu :
1) Keadaan
ekonomi keluarga.
2) Latar
belakang pendidikan ayah dan ibu.
3) Status
ayah dalam masyarakat dan dalam pekerjaan.
4) Hubungan
sosial psikologis antara orang tua dan antara anak dengan
orang tua.
5) Aspirasi
orang tua tentang pendidikan anak, serta perhatiannya terhadap
kegiatan belajar anak.
6) Besarnya
keluarga serta orang – orang yang berperan dalam keluarga.
PROGRAM
PEMERINTAH
·
Memberi Motivasi
Memberi motivasi
meupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia karena motivasi dianggap sebagai
sesuatu yang menjadi dorongan. Sebagai manusia sekiranya tidak lepas dari
bantuan orang lain dan salah satunya adalah motivasi.
Motivasi dipandang
sebagai dorongan mental yang mengerakkan dan menggarahkan perilaku manusia,
termasuk perilaku belajar (Dimyati dan Mudjiono, 80 : 2006). Motivasi merupakan
sebuah kegiatan (aktifitas) yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu.
Jucius (dalam Effendy, 64 : 2004) menyatakan bahwa motivasi sebagai kegiatan
memberikan dorongan kepada seorang atau diri sendiri untu mengambil kegiatan
yang di kehendaki.
Ada tiga komponen
utama dalam motivasi, yaitu: (1) kebutuhan, (2) dorongan, (3) tujuan. Kebutuhan
terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan anatara apa yang ia miliki
dan apa yang ia harapkan. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi
pada pemenuhan harapan dan pencapaian tujuan.. Sedangkan tujuan adalah hal yang
ingin dicapai oleh seseorang individu, Koeswara dalam (Dimiyati dan Mudjiono,
80-81, : 2006).
Secara umum dapat
dikatakan bahwa tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah
seseorang agar timbul keinginan dsan kemaunnya untuk melakukan sesuatu sehingga
dapat memperoleh hasil atau tujuan tertentu (Purwanto 73 : 2007).
·
Melakukan Pembinaan
Menurut Yurudik Yahya,
(di akses 12 Maret 2013). Pembinaan adalah suatu bimbingan atau arahan yang
dilakukan secara sadar dari orang dewasa kepada anak yang perlu dewasa agar
menjadi dewasa, mandiri dan memiliki kepribadian yang utuh dan matang
kepribadian yang dimaksud mencapai aspek cipta, rasa dan karsa. Istilah
pembinaan atau berarti “pendidikan” yang merupakan pertolongan yang diberikan oleh
orang dewasa kepada yang belum dewasa untuk mencapai kehidupan yang lebih
tinggi. Pembinaan merupakan proses yang dilakukan untuk merubah tingkah laku
individu serta membentuk kepribadiaanya, sehingga apa yang di cita-citakan dapat
tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan.
·
Pendidikan Kesetaraan / Kejar Paket A, B dan C.
Berdasarkan
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 26
ayat (3), bahwa pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan nonformal
yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA yang
mencakup Program Paket A, Paket B, dan Paket C.
Pendidikan Kesetaran
yang meliputi program pendidikan Paket A, B dan C ditunjukkan bagi masyarakat
yang putus sekolah yang mempunyai kesulitan sosial ekonomi seperti petani,
nelayan, anak jalanan dan lain-lain. Masyarakat yang bertempat tinggal di daerah
yang terisolir seperti daerah perbatasan, daerah rawan bencana atau daerah yang
belum mempunyai fasilitas yang memadai dan lain-lain.
Program pendidikan
kesetaraan merupakan solusi bagi masyarakat yang tidak mengikuti atau
menyelesaikan pendidikan formal karena berbagai macam faktor dan
alasan. Masyarakat yang membentuk komunitas belajar sendiri serta bagi mereka
yang menentukan pendidikan kesetaraan atas pilihan sendiri. Program pendidikan
kesetaraan / kejar paket A, B dan C mempunyai tujuan yang sama dengan
pendidikan pada umumnya yakni meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap
warga belajar sehingga dapat memiliki pengetahuan yang bermanfaat bagi diri
serta bagi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selanjutnya yang dapat
menyelenggarakan pendidikan kesetaraan adalah Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Organisasi Kemasyarakatan, Yayasan Badan
Hukum atau Badan Usaha, Organisasi Keagamaa dan lain-lain.
PERUBAHAN
YANG TERJADI SETELAH DILAKUKAN PROGRAM PEMERINTAH
Belum banyak
perubahan yang terjadi karena nyatanya pendidikan di
Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan
data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human
Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan,
kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks
pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia,
Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan
ke-109 (1999). Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC),
kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di
Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World
Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu
hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia.
Hal ini juga disebabkan karena masih banyaknya kurang kesadaran
dalam pendidikan yaitu terjadinya putus sekolah anak-anak Indonesia dan
berbagai faktor lainnya karena keadaan ekonomi.
IDE
ATAU GAGASAN DALAM MENGATASI PUTUS SEKOLAH
- Membangun sekolah rakyat yang baik diperuntukkan
bagi anak terlantar dan tidak mampu. Tidak dipungut biaya apa pun
dikarenakan ketidaksanggupan membiayainya karena kemiskinan di mana
pendirian sekolah tersebut seluruhnya ditanggung pemerintah setempat.
Pemerintah setempat memiliki kewajiban melindungi dengan sikap tegas.
Sekolah rakyat tersebut disetarakan dengan SD, SMP, SMA, dan Universitas
yang berkualitas.<\/li>
- Jika negara dan pemerintah setempat tidak sanggup
membiayai pembangunan sekolah bahkan yang sederhana sekali pun, kita,
terutama warga negara yang memiliki uang gaji berlebih seharusnya
memberikan sebagian uangnya kepada anak miskin untuk bersekolah.
- Berikan bimbingan atau
arahan yang dilakukan secara sadar dari orang dewasa kepada anak yang
perlu dewasa agar menjadi dewasa, mandiri dan memiliki kepribadian yang
utuh dan matang kepribadian yang dimaksud mencapai aspek cipta, rasa dan
karsa. Istilah pembinaan atau berarti “ pendidikan” yang merupakan
pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak
yang belum dewasa.
Referensi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar