KEADAAN PEREKONOMIAN INDONESIA
1. Pendapatan Per kapita
Pendapatan per
kapita adalah besarnya
pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan per kapita didapatkan
dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah
penduduk negara tersebut. Pendapatan per kapita juga merefleksikan PDB per kapita. Pendapatan per kapita sering
digunakan sebagai tolok ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara; semakin besar pendapatan per
kapitanya, semakin makmur negara tersebut.
Pendapatan per
kapita yang merupakan salah satu prestasi ekonomi sangat erat kaitannya dengan
pertambahan penduduk. Sehingga apabila pertambahan pendapatan nasional lebih
besar daripada pertambahan penduduk maka tingkat pendapatan per kapita penduduk
meningkat. Sebaliknya apabila pertambahan pendapatan nasional lebih kecil dari
pertambahan penduduk maka pendapatan per kapita mengalami penurunan. Untuk
mempertahankan tingkat per kapita relatif perlu dicapai tingkat pertambahan nasional
yang sama dengan tingkat pertambahan penduduk.
Pendapatan nasional dan pendapatan per kapita itu sendiri
akan naik apabila produktivitas perkapita mengalami kenaikan. Untuk menaikkan
produktivitas per kapita berarti harus ada perubahan-perubahan dalam
perekonomian misalnya perubahan struktur ekonomi, teknik produksi, sruktur
produksi dan masyarakat statis berkembang menjadi masyarakat dinamis.
Perkembangan beberapa Agregat Pendapatan dan Pendapatan Perkapita atas dasar Harga Berlaku 2010-2016
:
|
Rincian
|
2010
|
2011
|
2012
|
2013
|
2014
|
2015*
|
2016**
|
|
Produk Domestik
Bruto (miliar rupiah)
|
6 864 133.1
|
7 831 726.0
|
8 615 704.5
|
9 546 134.0
|
10 569 705.3
|
11 531 716.9
|
12 406 809.8
|
|
Produk Domestik
Bruto per kapita (ribu rupiah)
|
28 778.2
|
32 363.7
|
35 105.2
|
38 365.9
|
41 915.9
|
45 140.7
|
47 957.4
|
|
Produk Nasional
Bruto (miliar rupiah)
|
6 681 362.2
|
7 614 833.3
|
8 372 511.5
|
9 260 807.8
|
10 215 312.2
|
11 153 394.9
|
11 986 721.6
|
|
Produk Nasional
Bruto per kapita (ribu rupiah)
|
28 011.9
|
31 467.5
|
34 114.3
|
37 219.2
|
40 510.5
|
43 659.8
|
46 333.6
|
|
Pendapatan Nasional
(miliar rupiah)
|
5 172 926.0
|
5 967 173.9
|
6 510 395.3
|
7 188 558.5
|
7 911 932.2
|
8 428 985.8
|
9 411 096.0
|
|
Pendapatan Nasional
per kapita (ribu rupiah)
|
21 687.7
|
24 658.7
|
26 527.0
|
28 890.8
|
31 376.0
|
32 995.1
|
36 377.7
|
|
Jumlah penduduk
pertengahan tahun 1(juta orang)
|
238.5
|
242.0
|
245.4
|
248.8
|
252.2
|
255.5
|
258.7
|
Dari tabel diatas
menunjukan pendapatan perkapita Indonesia dari tahun 2010 sampai
2016. Menurut Bank Dunia pendapatan Indonesia di Klasifikasi Bank Dunia,
Pendapatan Per Kapita Indonesia Golongan Menengah-Bawah.
2.
Laju
Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah
suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue)
berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di
pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat
adanya ketidaklancaran distribusi barang.[1] Dengan kata lain, inflasi juga
merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu.
Inflasi
adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga.
Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi.
Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi
jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling
pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk
mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab
meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang
paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.
Inflasi dapat
digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan
hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah
angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100%
setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan
harga berada di atas 100% setahun. Tabel tentang laju inflasi dari situs bps:
|
Indeks
Harga Konsumen dan Inflasi Bulanan Indonesia 2005, 2006, 2007, Jan-Mei 2008 (
2002=100), Juni 2008 – Desesmber 2013 ( 2007 = 100), Januari 2014 – Desember
2017 ( 2012=100), Februari 2018 (2012=100)
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Dampak
Inflasi
|
Dampak atau akibat
dari inflasi terhadap perekonomian suatu negara yaitu:
- Berkurangnya investor.
- Mendorong tingkat suku bangsa.
- Mendorong tingkat spekulatif.
- Kegagalan pembangunan.
- Ketidakpastian ekonomi masa yang akan datang.
- Daya saing produk nasional berkurang.
- Defisit neraca pembayaran.
- Kesejahteraan masyarakat menurun.
Dampak inflasi yang
akan timbul terhadap masyarakat adalah:
- Masyarakat berpenghasilan tetap.
- Kreditur atau debitur.
- Memperbesar kesenjangan distribusi pendapatan.
- Menguntungkan para spekulan.
- Mempengaruhi para pelaku ekonomi.
3.
Pengangguran
Pengangguran atau tuna
karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali,
sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau
seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran
umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak
sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran
seringkali menjadi masalah dalam perekonomian, karena dengan adanya
pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang
sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan
masalah-masalah sosial lainnya.
Ø
Badan Pusat
Statistik (BPS) mengungkapkan, pada agustus tahun 2017 telah terjadi kenaikan
jumlah pengangguran di Indonesia menjadi 7,04 juta orang sedangkan pada agustus
2016 sebesar 7,03 juta orang. Meski mengalami peningkatan, jika dilihat dari
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada agustus turun 0,11 poin dari 5,61 di
agustus 2016 menjadi 5,50 di periode yang sama tahun 2017.
Tabel Pengangguran
Terbuka Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan 2013-2017.
|
Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan
|
2013
|
2014
|
2015
|
2016
|
2017
|
|||||
|
Februari
|
Agustus
|
Februari
|
Agustus
|
Februari
|
Agustus
|
Februari
|
Agustus
|
Februari
|
Agustus
|
|
|
Tidak/belum pernah
sekolah
|
112,435
|
81,432
|
134,040
|
74,898
|
124,303
|
55,554
|
94,293
|
59,346
|
92,331
|
62,984
|
|
Tidak/belum tamat SD
|
523,400
|
489,152
|
610,574
|
389,550
|
603,194
|
371,542
|
557,418
|
384,069
|
546,897
|
404,435
|
|
SD
|
1,421,873
|
1,347,555
|
1,374,822
|
1,229,652
|
1,320,392
|
1,004,961
|
1,218,954
|
1,035,731
|
1,292,234
|
904,561
|
|
SLTP
|
1,821,429
|
1,689,643
|
1,693,203
|
1,566,838
|
1,650,387
|
1,373,919
|
1,313,815
|
1,294,483
|
1,281,240
|
1,274,417
|
|
SLTA Umum/SMU
|
1,874,799
|
1,925,660
|
1,893,509
|
1,962,786
|
1,762,411
|
2,280,029
|
1,546,699
|
1,950,626
|
1,552,894
|
1,910,829
|
|
SLTA Kejuruan/SMK
|
864,649
|
1,258,201
|
847,365
|
1,332,521
|
1,174,366
|
1,569,690
|
1,348,327
|
1,520,549
|
1,383,022
|
1,621,402
|
|
Akademi/Diploma
|
197,270
|
185,103
|
195,258
|
193,517
|
254,312
|
251,541
|
249,362
|
219,736
|
249,705
|
242,937
|
|
Universitas
|
425,042
|
434,185
|
398,298
|
495,143
|
565,402
|
653,586
|
695,304
|
567,235
|
606,939
|
618,758
|
|
Total
|
7,240,897
|
7,410,931
|
7,147,069
|
7,244,905
|
7,454,767
|
7,560,822
|
7,024,172
|
7,031,775
|
7,005,262
|
7,005,262
|
Negara
Indonesia adalah memiliki angka pengangguran cukup tinggi yang dihadapi oleh
tenaga kerja muda usia 15 sampai 24 tahun, jauh lebih tinggi dari angka
rata-rata pengangguran secara nasional. Mahasiswa yang baru lulus dari universitas
dan siswa sekolah kejuruan dan menengah mengalami kesulitan menemukan pekerjaan
di pasar kerja nasional. Hampir setengah dari jumlah total tenaga kerja di
Indonesia hanya memiliki ijazah sekolah dasar saja. Semakin tinggi
pendidikannya semakin rendah partisipasinya dalam kekuatan tenaga kerja
Indonesia.
4. Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan
di mana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan,
pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat
disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses
terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global.
Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara
yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi
memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan, dll.
Kemiskinan
dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
·
Gambaran kekurangan materi, yang
biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami
sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
·
Gambaran tentang kebutuhan sosial,
termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat.
Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini
mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang
ekonomi. Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua gambaran
yang lainnya.
·
Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda
melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari
objek penghasilan di luar profesi secara halal. Perkecualian apabila institusi
tempatnya bekerja melarang.
|
Jumlah Penduduk Miskin, Persentase
Penduduk Miskin dan Garis Kemiskinan, 1970-2017
|
||||||||
|
Tahun
|
Jumlah Penduduk Miskin (Juta Orang)
|
Persentase Penduduk Miskin
|
Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bulan)
|
|||||
|
Kota
|
Desa
|
Kota+Desa
|
Kota
|
Desa
|
Kota+Desa
|
Kota
|
Desa
|
|
|
1970
|
n.a
|
n.a
|
70,00
|
n.a
|
n.a
|
60,00
|
n.a
|
n.a
|
|
1976
|
10,00
|
44,20
|
54,20
|
38,80
|
40,40
|
40,10
|
4 522
|
2 849
|
|
1978
|
8,30
|
38,90
|
47,20
|
30,80
|
33,40
|
33,30
|
4 969
|
2 981
|
|
1980
|
9,50
|
32,80
|
42,30
|
29,00
|
28,40
|
28,60
|
6 831
|
4 449
|
|
1981
|
9,30
|
31,30
|
40,60
|
28,10
|
26,50
|
26,90
|
9 777
|
5 877
|
|
1984
|
9,30
|
25,70
|
35,00
|
23,10
|
21,20
|
21,60
|
13 731
|
7 746
|
|
1987
|
9,70
|
20,30
|
30,00
|
20,10
|
16,10
|
17,40
|
17 381
|
10 294
|
|
1990
|
9,40
|
17,80
|
27,20
|
16,80
|
14,30
|
15,10
|
20 614
|
13 295
|
|
1993
|
8,70
|
17,20
|
25,90
|
13,40
|
13,80
|
13,70
|
27 905
|
18 244
|
|
1996
|
7,20
|
15,30
|
22,50
|
9,70
|
12,30
|
11,30
|
38 246
|
27 413
|
|
1996
|
9,42
|
24,59
|
34,01
|
13,39
|
19,78
|
17,47
|
42 032
|
31 366
|
|
1998
|
17,60
|
31,90
|
49,50
|
21,92
|
25,72
|
24,20
|
96 959
|
72 780
|
|
1999
|
15,64
|
32,33
|
47,97
|
19,41
|
26,03
|
23,43
|
92 409
|
74 272
|
|
2000
|
12,31
|
26,43
|
38,74
|
14,60
|
22,38
|
19,14
|
91 632
|
73 648
|
|
2001
|
8,60
|
29,27
|
37,87
|
9,79
|
24,84
|
18,41
|
100 011
|
80 382
|
|
2002
|
13,32
|
25,08
|
38,39
|
14,46
|
21,10
|
18,20
|
130 499
|
96 512
|
|
2003
|
12,26
|
25,08
|
37,34
|
13,57
|
20,23
|
17,42
|
138 803
|
105 888
|
|
2004
|
11,37
|
24,78
|
36,15
|
12,13
|
20,11
|
16,66
|
143 455
|
108 725
|
|
2005
|
12,40
|
22,70
|
35,10
|
11,68
|
19,98
|
15,97
|
165 565
|
117 365
|
|
2006
|
14,49
|
24,81
|
39,30
|
13,47
|
21,81
|
17,75
|
174 290
|
130 584
|
|
2007
|
13,56
|
23,61
|
37,17
|
12,52
|
20,37
|
16,58
|
187 942
|
146 837
|
|
2008
|
12,77
|
22,19
|
34,96
|
11,65
|
18,93
|
15,42
|
204 896
|
161 831
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2009
|
11,91
|
20,62
|
32,53
|
10,72
|
17,35
|
14,15
|
222 123
|
179 835
|
|
2010
|
11,10
|
19,93
|
31,02
|
9,87
|
16,56
|
13,33
|
232 989
|
192 354
|
|
Maret 2011
|
11,05
|
18,97
|
30,02
|
9,23
|
15,72
|
12,49
|
253 016
|
213 395
|
|
September 2011
|
10,95
|
18,94
|
29,89
|
9,09
|
15,59
|
12,36
|
263 594
|
223 181
|
|
Maret 2012
|
10,65
|
18,49
|
29,13
|
8,78
|
15,12
|
11,96
|
267 408
|
229 226
|
|
September 2012
|
10,51
|
18,09
|
28,59
|
8,60
|
14,70
|
11,66
|
277 382
|
240 441
|
|
Maret 2013
|
10,33
|
17,74
|
28,07
|
8,39
|
14,32
|
11,37
|
289 042
|
253 273
|
|
September 2013
|
10,63
|
17,92
|
28,55
|
8,52
|
14,42
|
11,47
|
308 826
|
275 779
|
|
Maret 2014
|
10,51
|
17,77
|
28,28
|
8,34
|
14,17
|
11,25
|
318 514
|
286 097
|
|
September 2014
|
10,36
|
17,37
|
27,73
|
8,16
|
13,76
|
10,96
|
326 853
|
296 681
|
|
Maret 2015
|
10,65
|
17,94
|
28,59
|
8,29
|
14,21
|
11,22
|
342 541
|
317 881
|
|
September 2015
|
10,62
|
17,89
|
28,51
|
8,22
|
14,09
|
11,13
|
356 378
|
333 034
|
|
Maret 2016
|
10,34
|
17,67
|
28,01
|
7,79
|
14,11
|
10,86
|
364 527
|
343 647
|
|
September 2016
|
10,49
|
17,28
|
27,76
|
7,73
|
13,96
|
10,70
|
372 114
|
350 420
|
|
Maret 2017
|
10,67
|
17,10
|
27,77
|
7,72
|
13,93
|
10,64
|
385 621
|
361 496
|
|
September 2017
|
10,27
|
16,31
|
26,58
|
7,26
|
13,47
|
10,12
|
400 995
|
370 910
|
|
Catatan:
|
||||||||
|
1. Sejak Desember 1998 digunakan standar
kemiskinan baru yang merupakan penyempurnaan standar lama.
|
||||||||
|
Data tahun 1976-1996
menggunakan standar lama, angka tahun 1996-2013 menggunakan standar baru
|
||||||||
|
2. Referensi waktu untuk seluruh data adalah
Februari,
|
||||||||
|
kecuali data
tahun 1998 (Desember) dan tahun 2006-2010 (Maret).
|
||||||||
|
Data mulai
tahun 1999 tanpa Timor Timur
|
||||||||
Beberapa Cara Pemerintah Mengatasi Kemiskinan di Indonesia
1.
Menggerakan sektor real melalui sektor Usaha Mikro Kecil
Menengah (UMKM) dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Program ini sangat efektif dalam mengatasi
amsalah kemiskinan di Indonesia.
2.
Membuka lapangan kerja yang seluas-luasnya untuk
mengurangi jumlah pengangguran, sebagai salah satu faktor penyebab kemiskinan
di Indonesia.
3.
Menghapuskan tindakan korupsi yang membuat berbagai layanan
untuk masyarakat terhambat sehingga membuat masyarakat tidak bisa menerima
haknya sebagai warna negara. Akibatnya, kemiskinan di Indonesia semakin
berkembang.
4.
Meningkatkan program zakat yang akan membantu menumbuhkan
pemerataan kesejahteraan sekaligus mengatasi kemiskinan di
Indonesia di dalam masyarakat. Sehingga dapat mencegah
kesenjangan sosial dan tingkat kekayaan.
5.
Menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok agar masyarakat
memiliki kemampuan atau memiliki daya beli untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Referensi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar